TEOANTROPOEKOSENTRIS BUKAN QIYAM ASASI (NILAI-NILAI DASAR) TAPI PARADIGMA KEILMUAN


Teoantropoekosentris itu tidak tepat dipahami sebagai nilai-nilai dasar (qiyam asasi) bagi kampus UIN Syahada sebagaimana Nilai-nilai Pelajar Pancasila bagi siswa Indonesia. Jadi teoantropoekosentris tidaklah tepat diposisikan sebagai tiga nilai dasar —nilai teo (ilahiah), nilai antropo (insaniyah) dan nilai eko (kauniyah)--- yang ditafsirkan secara terpisah sebagaimana cara kita menafsirkan Nilai-nilai Pelajar Pancasila menjadi butir-butir nilai yang mesti dimiliki pelajar Indonesia. Teoantropoekosentris itu adalah paradigma keilmuan bagi institusi UIN Syahada. Paradigma keilmuan di sini dipahami sebagai mode of thought (mode berpikir) keilmuan. Dari mode of thought keilmuan teoantropoekosentris ini terbentuk mode berpikir dalam melakukan kajian/pembahasan/diskusi dan juga mode of inquiry (mode meneliti). Bahkan pada gilirannya dari paradigma ini terbentuk pula mode pengabdian dan mode pengelolaan dan pengembangan institusi UIN Syahada. 


Bagaimana mode penelitian, mode kajian, mode pembahasan, dan atau mode diskusi perspektif paradigma teoantropoekosentris? 


Pertama, Tauhid menjadi pijakan nilai atau asas seluruh proses keilmuan. Tauhid di sini bermakna bahwa Tuhan adalah pemilik, sumber, dan tujuan ilmu. Semua objek ilmu adalah ciptaan Allah, yang juga disebut ayat-ayat Allah. Jadi, pada hakikatnya, kegiatan keilmuan adalah kegiatan yang bertujuan mengetahui Allah (ma'rifatullah) melalui ciptaanNya atau ayat-ayat Nya. Pandangan demikian ini akan membentuk tauhid ilmu. 


Kedua, atas dasar “tauhid ilmu”, secara hakiki ilmu pengetahuan dipandang satu kesatuan yang utuh (integratif) dan interkonektif, bukan terfragmentasi (terpisah-pisah), apalagi saling bertentangan (dikotomik). Disiplin ilmu tidak dimaknai sebagai bentuk fragmentasi ilmu. Disiplin ilmu hanyalah upaya membatasi fokus kajian sehingga kajian bergerak kepada kedalaman pemahaman dan pengetahuan. Karena tidak bagi siapapun untuk menguasai dengan mendalam banyak disiplin keilmuan. 


Ketiga, agar keutuhan ilmu (integrasi ilmu) itu terabstraksikan dengan baik, maka paradigma teoantropoekosentris merekomendasikan penerapan pendekatan bayani, burhani, dan ‘irfani dalam kajian teks-teks agama dan keagamaan secara sirkuler-dialektis. Sementara dalam kajian keilmuan terutama sosial-humaniora dan sains direkomendasikan penerapan pendekatan multidisipliner, interdisipliner, dan transdisipliner. 


Berdasarkan penjelasan di atas, jika Teoantropoekosentris diposisikan sebagai qiyam asasi, maka ideal cita kita menjadikan teoantropoekosentris menjadi paradigma keilmuan UIN Syahada akan sulit menjadi kenyataan. Nilai-nilai dalam paradigma teoantropoekosentris —yang meskipun memperlihatkan tiga sentra keilmuan (ilmu-ilmu keagamaan, ilmu-ilmu sosial-humaniora, dan ilmu-ilmu kealaman)--- tidaklah dimaksudkan sebagai pengabstraksian dari tiga sentra nilai keilmuan yang terpisah. Sebagai suatu paradigma ilmu justru nilai-nilai yang dikandungnya harus membentuk keyakinan (akidah) keilmuan seluruh sivitas akademika agar berpegang teguh kepada prinsip-prinsip takamul al-ulum (integrasi dan interkoneksi nilai ilahiyah-insaniyah-kauniyah) dalam aktifitas dan pengembangan ilmu pengetahuan. 


Akidah keilmuan bentukan paradigma teoantropoekosentris ini akan melahirkan cara pandang terhadap realitas (objek), sumber, dan nilai ilmu yang integratif. Dampak lanjutannya meniscayakan pula terbentuknya metodologi ilmu yang integratif berbasis ilahiyah-insaniyah-kauniyah paradigm (teoantropoekosentris). Metodologi ilmu dimaksud yaitu bayani, burhani, dan ifani, serta multidisipliner, interdisipliner, dan transdisipliner. Wallahu a'lam. 


_____________

Gambar:

Madinatul Munawwarah atau Madinatun Nabi (Kota Nabi) dengan pemandangan Masjid Nabawi yang tampak dari atas.


0 comments: