KHUTBAH IDUL FITHRI 1446 H: “PUASA RAMADHAN MEMBENTUK PRIBADI YANG SHADIQIN DAN MUTTAQIN”



السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّه وبركاته

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ 

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا)

 (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ) 

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا)
ثم قال الله تعالى في اية اخرى:

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ


ألله أكبر ألله أكبر لاإله إلاالله والله أكبر ألله أكبر و لله الحمد


Hadirin, jama’ah shalat ‘Idul Fithri yang dirahmati Allah.

Segala puji dan syukur marilah sama-sama kita panjatkan ke hadirat Allah SWT, atas limpahan kasih-sayang Allah yang tiada berhingga, kita telah dapat melaksanakan ibadah Shaum, Qiyam Ramadhan, serta amalan-amalan lain selama sebulan penuh, dan pada pagi hari yang cerah ini kita berkumpul membesarkan dan mengagungkan asma’ Allah.

Shalawat dan salam, “Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ali Muhammad” semoga selalu tercurah kepada Nabi kita yang mulia Muhammad Rasulullah Saw, keluarganya dan para sahabatnya.  Beliau telah menuntun dan membimbing umat manusia dari gelapnya kehidupan jahiliyah menuju terang caha iman dan Islam, yang insya Allah kita rasakan hingga saat ini.


ألله أكبر ألله أكبر لاإله إلاالله والله أكبر ألله أكبر و لله الحمد

Hadirin rahimakumullah.

Hari ini kita ber-’Idul Fithri. ‘Idul Fithri secara bahasa “kembali berbuka”, yakni kembali menikmati kehidupan halal di siang hari yang tadinya ditahan karena berpuasa. Nabi bersabda dalam shahih Bukhari-Muslim:

للصائم فرحتان يفرحهما:  إذا أفطر فرح، وإذا لقي ربه فرح بصومه

 “...lish-shaimi farhatani, yafrahu huma. Idza afthara fariha wa idza laqiya rabbahu fariha bi shaumihi.” (...orang yang berpuasa mendapat dua kesenangan. Ia senang ketika mendapatkan keduanya, yaitu ia senang saat berbuka dan ia juga senang ketika —nanti— bertemu dengan Tuhannya). 

Lebih dari itu, orang-orang yang telah berpuasa karena iman dan penuh pengendalian (ihtisab), maka Allah SWT akan mengampuni dosa-dosa mereka, baik dosa  yang tersembunyi maupun yang terang-terangan. Dosa-dosa setiap hamba sangatlah banyak. Kalau bukan karena rahmat dan maghfirah Allah, maka kita akan masuk golongan yang celaka di akhirat.

Hal terpenting yang membuat orang-orang yang berpuasa itu bergembira, karena di akhirat nanti, mereka akan menjadi tamu istimewa Allah. Mereka kelak akan dipersilakan masuk surga melalui pintu khusus yang dinamakan ar-Rayyân. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Rasulullah bersabda:

عَنْ سَهْلٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُونَ فَيَقُومُونَ لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ (رواه البخارى و مسلم)


Artinya:

 Dari Sahal radliallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Beliau bersabda: "Dalam surga ada satu pintu yang disebut dengan Ar-Rayyân artinya basah-melimpah, yang pada hari qiyamat tidak akan ada orang yang masuk ke surga melewati pintu itu kecuali para shâimun (orang-orang yang berpuasa). Tidak akan ada seorangpun yang masuk melewati pintu tersebut selain mereka. Lalu dikatakan kepada mereka, “Mana para shâimun? Maka para shâimun berdiri menghadap. Tidak akan ada seorangpun yang masuk melewati pintu tersebut selain mereka. Apabila mereka telah masuk semuanya, maka pintu itu ditutup dan tidak akan ada seorangpun yang masuk melewati pintu tersebut". (HR Bukhari dan Muslim).

Kita bermohon kepada Allah semoga kita termasuk hamba-Nya yang akan masuk surga melalui pintu Ar-Rayyan dan menjauhkan kita dari bernasib buruk di akhirat. 


ألله أكبر ألله أكبر لاإله إلاالله والله أكبر ألله أكبر و لله الحمد

Hamba-hamba Allah yang berbahagia.

Hari akhirat adalah hari-hari kita yang sesungguhnya. Dunia ini hanyalah persinggahan yang amat sementara. Di akhirat masing-masing kita akan diminta pertanggungjawaban terhadap apa-apa yang telah kita lakukan, apa-apa yang kita sia-siakan, dan begitu juga perbuatan salah dan buruk yang kita kerjakan. Selanjutnya —dengan keadaan masing-masing— kita dihadapkan dengan mizan (timbangan amal) untuk selanjutnya kita menerima balasan perbuatan selama hidup di dunia. Allah SWT akan memperhitungkan dengan Maha Teliti. Meskipun amal-shalih atau amal-buruk kita sebesar zarrah, sebesar atom atau lebih kecil dari itu, Allah akan memperlihatkannya di akhirat.

Amat penting untuk kita sadari, sebanyak apa pun amal kebaikan yang kita perbuat, sesungguhnya tidak akan dapat membalas nikmat dan kasih sayang Allah yang kita terima sejak di alam kandungan hingga ajal menjemput. Oleh karena itu, kalau bukan rahmat dan ampunan Allah Yang Maha Sayang dan Maha Luas, kita tidak mungkin mendapatkan surga-Nya. Itulah sebabnya, kita memohon ampun kepada Allah di setiap shalat dan zikir kita. Saat rukuk, sujud, dan duduk antara dua sujud, dan bahkan di luar shalat, kita selalu memohon maghfirah (keampunan) dari Allah.


ألله أكبر ألله أكبر لاإله إلاالله والله أكبر ألله أكبر و لله الحمد

Jama’ah shalat Id yang dimuliakan Allah...

Hari Kiamat adalah bencana dan huru hara sangat besar. Allah berfirman dalam surat An-Nazi’at ayat 34-41:

فَإِذَا جَاءَتِ الطَّامَّةُ الْكُبْرَى. يَوْمَ يَتَذَكَّرُ الإنْسَانُ مَا سَعَى.   وَبُرِّزَتِ الْجَحِيمُ لِمَنْ يَرَى.  فَأَمَّا مَنْ طَغَى.    وَآثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا.    فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَى. وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى.    فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى

Artinya:

34. Maka apabila malapetaka besar (hari Kiamat) telah datang.

35. yaitu pada hari (ketika) manusia teringat akan apa yang telah dikerjakannya,

36. dan neraka diperlihatkan dengan jelas kepada setiap orang yang melihat.

37. Maka adapun orang yang melampaui batas, 

38. dan lebih mengutamakan kehidupan dunia,

39. maka sungguh nerakalah tempat tinggalnya.

40. Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya,

41. maka sungguh, surgalah tempat tinggal(nya).


Dalam ayat lain, Allah mengingatkan orang-orang yang ingkar terhadap peristiwa Kiamat ini. Allah berfirman:


لَقَدْ كُنْتَ فِيْ غَفْلَةٍ مِّنْ هٰذَا فَكَشَفْنَا عَنْكَ غِطَآءَكَ فَبَصَرُكَ الْيَوْمَ حَدِيْدٌ. وَقَا لَ قَرِيْـنُهٗ هٰذَا مَا لَدَيَّ عَتِيْدٌ.  اَلْقِيَا فِيْ جَهَنَّمَ كُلَّ كَفَّا رٍ عَنِيْدٍ.  مَّنَّا عٍ لِّلْخَيْرِ مُعْتَدٍ مُّرِيْبِ.  ٱلَّذِيْ جَعَلَ مَعَ اللّٰهِ اِلٰهًا اٰخَرَ فَاَ لْقِيٰهُ فِى الْعَذَا بِ الشَّدِيْدِ


Artinya:

22. Sungguh, kamu dahulu lalai tentang (peristiwa) ini, maka Kami singkapkan tutup (yang menutupi) matamu, sehingga penglihatanmu hari ini sangat tajam. 

23. Dan (malaikat) yang menyertainya berkata, “Inilah (catatan perbuatan) yang ada padaku.”

24. (Allah berfirman), “Lemparkanlah olehmu berdua ke dalam Neraka Jahannam semua orang yang sangat ingkar dan keras kepala.

25. yang sangat enggan melakukan kebajikan, melampaui batas dan bersikap ragu-ragu,

26. yang menyekutukan Allah dengan tuhan lain, maka lemparkanlah dia ke dalam azab yang keras.” (Qur`an Surat Qaf ayat 22-26)

ألله أكبر ألله أكبر لاإله إلاالله والله أكبر ألله أكبر و لله الحمد

Jama’ah sekalian, Allah SWT telah mengabarkan lebih dulu kepada kita bahwa pada hari ketika manusia ditunjukkan catatan amal perbuatan. Manusia yang mendapat catatan buruk, ia ingin supaya dapat menebus kebebasannya dari siksa neraka atau dikembalikan lagi ke dunia agar ia mentaati Allah dan Rasul-Nya. Allah berfirman yang artinya sebagai berikut:

Dan seandainya engkau (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, mereka berkata, “Seandainya kami dikembalikan (ke dunia) tentu kami tidak akan mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman.”  

Dan seandainya engkau (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan kepada Tuhannya (tentulah engkau melihat peristiwa yang mengharukan). Dia berfirman, “Bukankah (kebangkitan) ini benar?” Mereka menjawab, “Sungguh benar, demi Tuhan kami.” Dia berfirman, “Rasakanlah azab ini, karena kamu dahulu mengingkarinya.” (QS Al-An’am/6: 27 dan 30).


ألله أكبر ألله أكبر لاإله إلاالله والله أكبر ألله أكبر و لله الحمد

Hadirin jama’ah shalat ‘Id yang dirahmati Allah.

Ibadah puasa akan membentuk kepribadian kita menjadi insan yang bertakwa. Pribadi yang bertakwa adalah pribadi yang mampu memelihara diri dari segala hal yang merusak ketaatan kepada Allah. Suatu pribadi yang seimbang, dengan emosi yang mantap dan stabil, serta memiliki mekanisme pertahanan diri yang kokoh. Inilah insan yang memiliki integritas (kekokohan) kepribadian.

Integritas (kekokohan) kepribadian seorang hamba yang beriman ditunjukkannya dengan kestabilan jiwanya ketika dicaci, dimaki atau dikhianati. Ia mampu menahan gejolak emosi dan hawa nafsu yang dapat mengancam kepribadiannya. Dampaknya, ia memiliki sikap arif, bijak dan pemaaf. Ia sabar dalam masa-masa lapang dan sempit dan bahkan pada kondisi-kondisi yang paling sulit sekalipun, misalnya masa perang. Ia berhati pemurah, terutama dalam membantu orang-orang yang membutuhkan. Ia selalu memegang teguh janji, jika ia berjanji, ia selalu menjaga amanah jika diberi amanah, ia selalu jujur dan tak pernah berdusta. Inilah di antara ciri khas kepribadian orang yang benar (shadiq) dan yang bertakwa, sebagaimana dinyatakan dalam firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 177. 


ألله أكبر ألله أكبر لاإله إلاالله والله أكبر ألله أكبر و لله الحمد

Hadirin, hamba-hamba Allah yang berbahagia.

Hakikat ibadah puasa adalah pengendalian hawa nafsu. Selama berpuasa, hawa nafsu kita kekang dengan cara tidak makan dan minum, menghindari perbuatan keji (rafats), menghindari perilaku bodoh (jahil), dan meninggalkan perkataan dusta (qauluzzur). Kita juga menghindar dari pergunjingan, perkelahian dan caci-maki. Kalau ada orang memprovokasi untuk bertindak jahil, caci maki atau berkelahi, maka kita menolak dan menghindar. Kita katakan dengan tegas kepada orang itu bahwa kita sedang beribadah puasa.

Di sisi lain, kita memperbanyak ibadah seperti qiyamu ramadhan (shalat Tarawih), tadarus Al-Qur`an, memperbanyak infak dan shadaqah, bahkan ada yang i’tikaf di masjid pada hari-hari 10 terakhir Ramadhan. Pada bulan yang penuh berkah tersebut, kita juga meningkatkan kepedulian kepada anak yatim dan fakir-miskin. Kita menutup amal kebaikan Ramadhan dengan menunaikan zakatul fithri (zakat fitrah). 

Dengan amal shalih yang demikian, maka sesungguhnya kita telah menjadikan ruh kita memimpin jasad kita. Secara hakiki, kita pun sedang berupaya mendaki untuk semakin dekat kepada Allah SWT. Dengan demikian, insya Allah martabat kita akan naik di sisi Allah SWT. Oleh karena kita beriman dan senantiasa meningkatkan ketakwaan, maka Allah SWT pun menyebut bahwa Dia sangat dekat kepada hamba-hamba-Nya. Dan Dia akan mengabulkan do’a hamba-Nya, jika hamba itu berdo’a kepada-Nya. Allah SWT berfirman:

وَاِ ذَا سَاَ لَـكَ عِبَا دِيْ عَنِّيْ فَاِ نِّيْ قَرِيْبٌ ۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّا عِ اِذَا دَعَا نِ ۙ  فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ

Artinya:

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka memperoleh kebenaran." (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 186)

Bahkan Allah SWT menyebut hamba yang demikian sebagai wali-Nya. Allah berfirman:


اَ لَاۤ اِنَّ اَوْلِيَآءَ اللّٰهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ. اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَكَانُوْا يَتَّقُوْنَۗ


Artinya:

Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. (QS Yunus/10 ayat 62-63).


ألله أكبر ألله أكبر لاإله إلاالله والله أكبر ألله أكبر و لله الحمد

Di akhir khutbah ini, khatib mengajak kita semua untuk mempererat silaturrahim (tali kasih-sayang) sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Saw dan para sahabat. Suatu bentuk kasih-sayang yang tulus dan indah sebagaimana kasih sayang orang tua terhadap anak, anak terhadap orang tuanya, sesama karib-kerabat, yang tua kepada yang muda, sebaliknya yang muda kepada yang tua. Begitu juga kita harus mempererat kasih sayang kepada saudara-saudara kita yang yatim, fakir dan miskin. Berkasih-sayang di antara kita adalah salah satu ciri khas ummat Muhammad Saw. Dalam surat al-Fath/48 ayat 29, Allah berfirman:

مُحَمَّدٌ رَّسُوْلُ اللّٰهِ ۗ وَا لَّذِيْنَ مَعَهٗۤ اَشِدَّآءُ عَلَى الْكُفَّا رِ رُحَمَآءُ بَيْنَهُمْ تَرٰٮهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَّبْتَغُوْنَ فَضْلًا مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَا نًا ۖ سِيْمَاهُمْ فِيْ وُجُوْهِهِمْ مِّنْ اَثَرِ السُّجُوْدِ ۗ ذٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِى التَّوْرٰٮةِ ۖ وَمَثَلُهُمْ فِى الْاِ نْجِيْلِ ۚ كَزَرْعٍ اَخْرَجَ شَطْئَـهٗ فَاٰ زَرَهٗ فَا سْتَغْلَظَ فَا سْتَوٰى عَلٰى سُوْقِهٖ يُعْجِبُ الزُّرَّا عَ لِيَـغِيْظَ بِهِمُ الْكُفَّا رَ ۗ وَعَدَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ مِنْهُمْ مَّغْفِرَةً وَّاَجْرًا عَظِيْمًا


Artinya:

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap tegas terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku' dan sujud, mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya. Tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud.*) Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.

Hal lain, kita perlu membiasakan tradisi sahabat ketika mereka bertemu pada hari Raya untuk saling mendoakan. Dalam Fiqh as-Sunnah disebutkan: Jubeir bin Nafir berkata, “Apa bila sahabat-sahabat Rasulullah Saw bertemu pada hari Raya, maka mereka saling mengucapkan:Taqabbalallahu minna wa minkum”. (Semoga Allah menerima amal ibadah kami dan amal ibadah kamu).

Di samping itu, sudah menjadi kebiasaan baik kita di hari yang fithri ini untuk membuka pintu hati seluas-luasnya yaitu saling bermaafan. Suatu perasaan maaf yang tulus-ikhlas yang lahir dari lubuk hati yang bersih dan suci. Mari kita ingat pesan suci Nabi kita:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَقَالَ عَثْرَةً أَقَالَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Artinya:

Dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Barangsiapa memaafkan kesalahan orang lain maka Allah akan memaafkan kesalahannya pada hari kiamat." (H.R. Ahmad No. 7122)

Sembari saling bermaafan, kita memohon kepada Allah, semoga ibadah puasa kita berterima di sisi-Nya. Kekurangsempurnaan ibadah puasa kita semoga dapat ditutupi  oleh zakat fitrah yang kita tunaikan. Semoga pula Allah masih mempertemukan kita dengan bulan Ramadhan tahun-tahun yang akan datang.

_____Allahumma anta  rabbuna la ilaha illa anta, Engkalah Tuhan Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang, inilah kami hamba-hamba-Mu yang bergelimang salah dan dosa, ampuni dosa-dosa kami ya Rabb dan maafkan segala kesalahan kami. Terima amal ibadah kami yang tidak seberapa. Lindungi kami pada hari tiada tempat berlindung selain perlindungan-Mu. Jauhkan kami dari siksa neraka-Mu.

______Ya Rabbana, saat kami bergembira hari ini, sebagian saudara-saudara kami di Ghaza dan di wilayah-wilayah perang bersedih menumpahkan air mata karena menanggung derita peperangan. Ya Rabb, kami sadar bahwa ternyata iman kami sangat lemah. Ukhuwah kami sangat rapuh. Engkau menyaksikan bahwa kami dan pemimpin kami hanya mampu mengecam, mengutuk dengan kata-kata atas tragedi pembubuhan yang berlanjut setiap hari. Ya Rabb, kami tidak tahu apakah kami pantas mendapat ampunan dan pertolongan atas pembiaran kami kepada tragedi kemanusiaan yang terus berlanjut ini. Ya Rabb, bagaimanapun keadaan lemahnya iman kami, berilah pertolongan-Mu kepada kaum Muslimin dan mustadh’afin yang tertindas. Lindungi mereka dan beri mereka rasa aman sebagaimana yang kami rasakan.

رَبَّنَا ظَلَمْنَاۤ اَنْفُسَنَا وَاِ نْ لَّمْ تَغْفِرْ لَـنَا وَتَرْحَمْنَا لَـنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ

ربنا أتنا فى الدنيا حسنة و فى الأخرة حسنة وقنا عذاب النار

والحمد لله رب العالمين 

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

---------------------------

Gambar diambil dari: https://www.detik.com/sulsel/berita/d-7828370/20-kartu-ucapan-idul-fitri-2025-gratis-dengan-desain-menarik-yuk-download

0 comments: